News + Blog
fib Indonesia

Ekasplorasi Titik Optimum Beton Rendah Semen (Low Cement Concrete): Satu jawaban untuk masalah infrastruktur yang berkelanjutan


Senot Sangadji  | fib Indonesia
2020-01-25


Bagaimana membuat beton yang sustainable dan memiliki kekuatan yang tetap tinggi? Beton yang sustainable semestinya meminimalkan penggunaan semen. Mengapa? Alasannya, proses kalsinasi kapur untuk mendapatkan klinker sebagai bahan pembentuk semen adalah proses pembakaran yang melaepaskan karbondioksida ke udara bebas. Proses ini sering ‘dituduh’ menyumbang emisi karbon dan meningkatkan pemanasan global. Jadi mengurangi semen berdampak positif pada mengurangi tekanan ekologis pada lingkungan. Di sisi lain kekuatan beton dapat dicapai dengan menambah semen. Ini artinya water to cement ratio akan menurun dan mutu beton akan meingkat. Dengan demikian menambah semen berbanding lurus dengan kekuatan beton. Tetapi menambah semen juga berarti menambah autogeneous dan thermal shrinkage (susut) yang menimbulkan retakan pada permukaan beton jika tidak dikendalikan. Bagaimana mencari keseimbangan antara bebagai parameter yang saling berlawanan ini? Bagaimana mengajarkan konsep dan prinsip-prinsip ini pada para mahasiswam yang nanti akan menjadi insinyur perancang dan pelaksana konstruksi? Dr. Antoni dan Prof. Djwantoro Hardjito, anggota fib-Indonesia dan dosen-peneliti dari UK Petra, menjawab semua pertanyaan ini dengan kreatif. Lomba beton diadakan dengan mengundang partisipasi tim-tim mahasiswa teknik sipil se-Indonesia dan meminta mereka merancang low cement concrete (LCC) secara kreatif. Tim-tim mahasiswa berlomba mendapatkan rancang campur yang seimbang dengan meminimalkan kandungan semen tetapi, menambah suplemen, menggunakan additive superplasticizer, untuk memaksimalkan kekuatan beton. Setelah kompetisi selama tiga tahun berturut-turut, Antoni dan Djwantoro menganalisis komposisi campuran dan sifat beton yang dihasilkan. Kedua anggota fib-Indonesia ini menemukan bahwa membuat LCC itu mungkin dilaksanakan oleh para mahasiswa dengan kreatif, sebagaimana yang mereka tulis dalam paper. Walaupun pengetahuan para peserta tentang penggunaan superplasticizer dan material semen adalah tantangan yang paling menonjol, mereka dapat membuat beton dengan kekuatan tekan 50 MPa (7252 psi) dengan meminimalkan kandungan semen hingga 200 kg / m3 (337 lb / yd3). LCC ini juga memiliki kelacakan (workabilitas) yang cukup. Inovasi dan kreatifitas menjadi senjata Antoni dan Djwantoro untuk menjawab tantangan mencari titik optimum baru. LCC menjawab tantangan sustainabilitas tanpa mengorbankan mutu beton.