News + Blog
fib Indonesia

Eco-Durability Index: memastikan beton menjadi material konstruksi yang berkelanjutan


Senot Sangadji  | fib Indonesia
2020-01-25


Untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan, pembangunan infrastruktur mutlak dilakukan. Namun demikian proses dan produk pembangunan tersebut seringkali memberikan tekanan ekologis dan dampak negatif pada lingkungan alami dan binaan (natural and built environment). Merancang infrastruktur yang berkelanjutan adalah kemutlakan pada era konstruksi modern ini. Setelah air, beton adalah material yang paling banyak diproduksi dan digunakan dalam konstruksi. Kemudahan suplai bahan baku, kemudahan produksi, dan harganya yang murah membuah beton menjadi pilihan utama para insinyur konstruksi. Yang menjadi soal adalah bahwa beton menyumbang hingga 5 % emisi karbon dioksida dalam seluruh rantai pasok dan lini produksi hingga konstruksinya. Cukup banyak beton yang mengalami kegagalan premature dalam usia layannya sehingga perlu perbaikan dan rehabilitasi yang menkonsumsi beton baru. Semsetinya beton dapat dan harus memiliki durabilitas yang baik untuk mengurangi penggunaannya dalam perbaikan struktu eksisting. Tantangan ini dijawab oleh S.A. Kristiawan dan Senot Sangadji serta tim peneliti di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Kristiawan dan Sangadji mengembangkan dan index eco- durability yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja material beton. Usulan mereka ini telah terbit pada paper prosidin IOP. Beton diukur dengan menilai sifat keawetannya terhadap serangan kimiawi (asam sulfat, ion klorida, dll), dan menilai emisi gas rumah kaca dengan Life Cycle Assessment. Rasio antara sifat durabilitas dan emisi gas rumah kaca ini menjadi index kinerja beton. Singkatnya, beton yang sangat awet, artinya berdurabilitas tinggi, tetapi menggunakan material dan proses produksi yang berdampak besar terhadap lingkungan akan, “Mempunyai index yang kurang baik deibandingkan dengan yang awet dan rendah emisi gas rumah kacanya”, ujar Kristiawan. Saat ini Kristiawan dan Sangadi, yang menjadi ketua pengawas dan sekretaris umu fib-Indonesia, mengembangkan lebih lanjut mechanical-